kalo ngeliat di pilem pilem jadul seperti film kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota, kayaknya jakarta itu puanaas banget. emang, sih. begitu aku keluar dari pintu dalam bandara, kegerahan mulai menyergap. untungnya kegerahan nggak ditambahi dengan bandelnya para supir taksi atau orang orang yang menawarkan diri untuk mengantar. meski nggak seganas para sopir taksi di bandara juanda, ada salah satu sopir yang terkenal sok akrab. saking sok akrabnya mereka, sempet kukira sebagai orang yang menjemputku di bandara, hehe…
bagian depan bandara ini sepertinya panjang juga, sebagaimana layaknya bandara bertaraf internasional. kalau aku nggak salah, kayaknya bandara ini menghadap ke utara melengkung sebagian menghadap ke barat / barat daya. dimana penurunan penumpang domestik ada di ujung paling barat, dan internasional di ujung lainnya.
sempet juga jalan ke arah timur / timur laut sempet jalan jalan ke arah timur / timur laut, penerbangan internasional, untuk mencari kalau kalau ada penjual voucher atau atm mandiri. kartu perdana frenku nggak kedetek di hp, sama seperti kasus sebelumnya waktu aku coba ganti pakai flexi. njelehi … .
kalau dibandingkan dengan bandara juanda yang baru… sepertinya masih luas dengan bandara juanda yang baru, atau apa karena masih baru, soalnya bandara juanda yang lama sendiri juga lebih parah.
setelah mondar mandir, ketemu wartel yang juga jualan voucher, buset, voucher 50K dijual 60K. rasanya itu satu satunya tempat yang jualan voucher. atm mandiri pun nggak aku jumpai disekitar situ. apa boleh buat. beli voucher, sekalian telfon penjemputku yang ternyata sudah berada di bandara satu jam yang lalu.
nggak lama, mobil penjemput menghampiri ditepi bandara, dan kami pun melaju keluar area bandara.
sopir yang satu ini ternyata cukup grapyak juga. enak diajak ngobrol dan nyambung. melihat jalan yang dilalui, sepertinya bandara soekarno hatta banyak diakses lewat jalan tol. mobil kami pun melaju kencang diatas jalan tol. sesekali aku ngeliat lingkungan sekitar yang sebagian berupa area industri, juga area tambak.
beberapa menit melewati tol, sepertinya sudah masuk area dalam kota meski masih dalam lajur tol. meski disebut sebagai jalan tol, rasanya kondisi jalannya nggak terlalu berbeda dengan jalan surabaya - kertosono.
tak begitu lama, kami keluar dari pintu tol dan terjebak macet. jam jam segitu, katanya memang jam jam macet dimana para pekerja sudah pada mulai pulang. tak pelak lagi, perjalanan dari bandara sampai ke kebayoran lama, memakan waktu sampai hampir dua jam.
Post a Comment