Memang jakarta panas, tapi tak sepanas surabaya. Dari beberapa hari tinggal di mes perwira SESKOAL di daerah cipulir, kebayoran lama, malah rasanya seperti tinggal didaerah malang. Sejuk dan terkadang dingin. Airnya juga segar.
Areanya sendiri tidak seluruhnya bertanah rata, ada bagian yang lebih tinggi dari lainya, dan ada yang lebih rendah dari lainnya. Apalagi didukung dengan banyak tanaman hijau dan taman taman bersih, serta beberapa ekor kijang yang duduk duduk santai di taman.
Mungkin panasnya jakarta baru benar bisa dirasakan kalau kita berada di jalanan. Betapa tidak, jalanan sempit, kendaraan bejibun, macet, asap betebaran, dan egoisme berkendara yang tinggi, nggak pengendara sepeda motor, bajaj, metro mini, sampai pengendara mobil pribadi.
Pertama kali melihat cara berkendara mereka, rasanya lebih parah dari pengendara di surabaya, terutama mobil pribadi. Rata rata mereka nyelonong sana nyelonong sini. Parahnya, banyak yang nggak memberikan lampu isyarat, menyalakan light sign. Temenku menyebutnya “slonong boy”.
Rasanya untuk berkendara di jakarta, musti banyak mengenal jalan jalan. Kalo ndak, bakal banyak kesasarnya. Belum lagi dengan rambu rambu aturan main di jakarta yang mungkin di kota lain belum ada seperti adanya 3in1 pada jalan jalan tertentu dan jam jam tertentu.
Busway, yang katanya sebagai alternatif kendaraan umum paling nyaman yang saat ini sedang digiatkan pemerintah jakarta, rasanya belum cukup mampu menarik minat pengendara lainnya untuk memarkirkan kendaraannya di rumah dan menggunakan busway sebagai alternatif transportasi.
Selain banyak mengenal jalan jalan dijakarta, satu hal yang diperlukan lagi, mengetahui jam jam sibuk pada jalan jalan tertentu. Salah prediksi saja, bisa terjebak macet berjam jam. Mungkin kalo naik kendaraan roda dua masih bisa nyelinap, tapi jika naik mobil kedua hal tersebut patut diperhitungkan. Namun demikian, kedua jenis kendaran itupun, kalau sudah terjebak macet, bisa jadi nggak bisa bergerak kemanapun.
Sedikit perbedaan dengan macet di surabaya, mungkin.. di surabaya jalan jalan masih lebar dan masih banyak jalan yang tidak dipisah dengan pembatas jalan. Di Jakarta ? sudah jalan dibagi dengan busway (untuk beberapa jalur), kemudian dibagi lagi untuk pengendara sepeda motor. Mana pembatasnya lumayan lebar, sehingga memakan badan jalan.
Post a Comment