Sudah ada dua tahunan lebih aku bekerja di military consultant, software house yang banyak membuat product aplikasi military. Selama waktu itupun semua project yang dikerjakan, selalu dikerjakan ditempat klien.
Paling sering ngerjain project di lingkungan angkatan udara, pusdiklathanudnas, daerah kenjeran surabaya. Dua tahun lebih nongkrong di sana sama bapak bapak angkatan udara indonesia.
Aku yang awalnya nggak banyak tau soal militer, mau nggak mau akhirnya jadi tau meski belum semuanya aku ketahui. Apa itu namanya amelden, kurvey, beam radar, interception, dan hal hal military lainya jadi tau dari keseharian bergabung dalam hari hari mereka. Sampai selera nonton film dan bermain game bertambah pada hal hal berbau militer. Band of brother, saving private ryan, windtalkers, pearlharbour, top gun sampai call of duty, delta force, berbagai koleksi medal of honor, battle field serta masih banyak lagi yang lainnya..
Bekerja di lingkungan militer, ada enaknya dan ada juga nggak enaknya. Jenis klien yang satu ini memiliki style yang berbeda dengan style klien seperti perusahaan industri atau jasa.
Dalam proses produksi di kesehariannya, kita yang sebagai orang sipil, mau nggak mau harus mengikuti aturan main mereka, karena memang berada dalam lingkungan militer mereka.
Mulai masuk area sampai di dalam ruang. Pagi pengendara sepeda motor, wajib melepas kacamata, penutup pelindung asap serta melepas jaket. Tak jarang pula musti menuntun sepeda motor jika diperlukan, yang jarak gerbang depan dengan tempat parkir terkadang juga lumayan.
Bagi rekan rekan yang baru dan belum dikenal oleh penjaga, biasanya diminta meninggalkan kartu identitas karena masih belum dapet nametag. NameTAG itu pun terkadang juga jarang dipake sama anak anak dengan alasan bikin ribet.
Rambut, meski hal ini nggak ada aturan tertulis bagi warga sipil yang masuk dalam lingkungan militer, kalau rambut kita panjang / gondrong, bakal sering jadi object view, bahkan bisa jadi bahan gunjingan agar segera dipotong, hehe..
Minum dan snack, dilarang keras berada di sekitar meja kerja atau komputer. Mungkin bagi beberapa orang yang mouse addict, di depan komputer nggak terasa lengkap tanpa ada segelas kopi / teh atau apapun yang bisa dimakan atau diminum di meja kita. Memang rasanya aneh waktu kali pertama aku datang ke sini. So.. setiap kali ingin minum atau ngemil, musti ke rest room. Jadinya kalo nggak kebablasan berlama lama di rest room, lebih sering mending bawa botol minuman / camilan sendiri disimpan di samping / dalam tas.
Duduk dan berdiri, nggak boleh seenaknya. Berdiri bersandar di meja yang sejajar dengan pantat kita, biasanya bakal kena tegur.
Panggil nama sebenarnya, jika perlu beserta pangkatnya. Jangan sampai pernah mencoba bercanda memanggil nama prajurit dengan nama candaan di depan prajurit lainnya, lebih lebih di depan atasannya, meski kita sudah akrab dengan prajurit yang kita sebut,. Panggilan diharuskan diawali dengan sapaan Pak, Bu, atau nama jabatan, meski yang bersangkutan usianya lebih muda dari kita.
Itu tadi beberapa catatan pengalaman saat di pusdiklathanudnas surabaya. Beda tempat beda aturan juga.
Di SESKOAL sini, sepertinya lebih straight lagi dari pada di pusdik. Maklum, yang sekolah di sini rata rata sudah perwira, setaraf ndanpusdik.
Dalam project yang saat ini ditangani office, aku ma temen temen tinggal di mes perwira yang disewa sama office. Berangkat jam 8 balik bisa sampek jam 8-10 malem, bahkan lebih. Karena tinggal di dalam lingkup seskoal, so musti mengikuti aturan main sekoal pula.
Nggak boleh merokok sambil berjalan. Dari mes ke gedung dimana ruang tempat kerja berada, diperlukan berjalan sekitar 100 - 250 meter. Disitu, ada rekan yang kena tegur anggota seskoal karena merokok dalam perjalanan.
Jika bertemu patroli, berhentilah. Patroli malam biasanya mulai keliling di jam jam tertentu. Andai bertemu dengan patroli saat pulang, we should be frozen, atau bakal kena semprot provos. Hal ini berlaku juga jika kita melintas di salah satu area yang kebetulan ada orang penting sedang melakukan aktifitasnya. Provos akan memberi isyarat pada kita untuk diam ditempat.
Patuhi rambu rambu lalu lintas yang ada di setiap ruas jalan. Seperti rambu rambu lalu lintas di jalan raya, di kompleks sini pun memiliki banyak rambu rambu lalu lintas yang bila dilangkar, siap siap untuk kena semprot provos..
Jangan motret seenaknya. Jika memerlukan scene tertentu untuk project, minta orang dalam yang terkait dengan project untuk menemani. Kalau pingin nyuri kesempatan, belajarlah jadi paparazi, hehe…
4 Comments
wah masih mending kalo ditegor mas…
aku dulu bukan cuma ditegor… tapi disuruh push up 2 seri :))
gara2 merokok. siyalll
many words..many colours..many stories..
still the same as afu whom I knew several years ago..and jik panggah mbulet ae kii..;-)
Yah namanya juga kecap no.1 yang merasa paling memiliki republik ini.
Namanya juga meliter mas…. tengtara.. tentu aja serba salah. saya juga banyak denger cerita lucu namun bikin miris dari rekan-rekan di Aceh yang selama ini bersentuhan dengan konflik bersenjata.
Post a Comment